Showing posts with label Islami. Show all posts
Showing posts with label Islami. Show all posts

Monday, 6 March 2017

BEGINILAH SAAT KELUARNYA RUH


Diriwayatkan dari Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bahwasannya beliau bersabda : "Tidak akan keluar ruh seorang mukmin hingga ia melihat tempatnya di syurga, dan tidak akan keluar ruh seorang kafir, hingga ia melihat tempatnya di neraka".
Para Sahabat pun bertanya : "Wahai Rasulallah bagaimanakah seorang mukmin melihat tempatnya di syurga dan orang kafir melihat tempatnya di neraka?"
Nabi alaihissholatu wassalamu pun menjawab : "Allah menciptakan Jibril a.s. dalam sebagus-bagus rupa, dan diberikan pada Jibril a.s. 600 sayap, dan di antaranya ada dua sayap yang keduanya berwarna hijau seperti sayap burung merak".
"Ketika ia membentangkan sayap, maka gemerlaplah antara langit dan bumi. Dan pada sayap kanannya telah ditulis gambaran surga dan isinya yaitu ; bidadari, istana-istana, pemuda-pemudi, anak-anak."
"Pada sayap kirinya tergambar gambaran Jahannam dan isinya, yaitu ular-ular, kalajengking, tingkatan-tingkatan dan malaikat Zabaniyyah."
"Saat ajal seorang hamba datang, maka masuklah segolongan malaikat melalui urat darahnya, dan menarik ruh dari telapak tangan sampai lututnya, keluarlah segolongan pertama dan segolongan malaikat kedua masuk, mencabut ruh dari lutut sampai pusar, keluarlah segolongan kedua itu dan masuk segolongan ketiga, mencabut ruh dari perut sampai dada, keluarlah segolongan ketiga dan masuklah segolongan keempat dan mencabut ruh dari dada hingga tenggorokan, seperti firman Allah :
فلولا إذا بلغت الخلقوم، وانتم حينئذ تنظرون
falaula idzaa balaghatil hulqum, wa antum hinaidzin tandzuruun."

"Ketika itu, jika orang yang menghadapi sakaratul maut tersebut adalah seorang mukmin, maka Jibril a.s. membentangkan sayap kanannya, dan ia melihat tempatnya yang tergambar disayap tersebut, ia pun terpesona, terus menatap dan tiada menatap lainnya, ibu, bapak ataupun anak-anaknya karena cintanya pada tempat itu."
"Dan ketika orang yang sakarat itu orang kafir (ingkar) maka Jibril a.s membentangkan sayap kirinya, kemudian ia melihat gambaran pada sayap tersebut, dan terus memandangnya, tidak bisa melihat yang lain seperti bapak, ibu dan anak2nya karena ketakutan dengan tempat tersebut, maka beruntunglah bagi orang yang kuburnya sebagai taman dari taman2 syurga, dan celakalah bagi orang yang kuburnya sebagai suatu lubang dari lubang neraka." [Kanzul Akhyar]
Wallahu a'lam... [liFadlail al amal]
"Yaa Allah Bi Husnil Khatimah"
Ditarjamahkan dari kitab Durratun Nasihin, Bab Bayan Alam al Maut : 136

Sunday, 20 July 2014

MARI BELAJAR GAYA HIDUP BANGSA CHINA

Pengantar:


 Artikel ini saya peroleh dari sahabat Fber, @Aryanto Lukito. Walaupun beliau tdk memberikan link, tapi saya percaya bahwa tulisan tsb dari Gus Hasyim Muzadi. Saya cukup hapal dg gaya bahasa dan pemikiran beliau. Karena substansi yg sangat penting dr artikel ini, maka saya memberanikan diri memuatnya dalam note ini. Selamat menyimak dan menikmati tulisan yg penuh humor, kritik, tetapi mencerahkan ini (MASH).

 
Oleh : KH. A. Hasyim Muzadi
Pengasuh Pesantren Mahasiswa Al Hikam Malang



Saya ingin menyampaikan sesuatu yang menarik tentang RRC (Tiongkok) kepada kamu semua. Dengan perjalanan ini, saya menjadi lebih mengerti kenapa Rasulullah SAW menganjurkan kita supaya mencari ilmu, sekalipun ke Negeri Cina. Saya perhatikan ada beberapa kekhususan dari China , yaitu:

1. Segi Historis (Sejarah)
China adalah bangsa yang tua karena beribu-ribu tahun sebelum masehi, China sudah menjadi bangsa yang besar bersama dengan Romawi, Yunani , Persia , India , dll. Ini adalah bangsa-bangsa tua yang ribuan tahun sebelum masehi sudah dikenal dalam sejarah.

2. Segi Geografis
China persis berada pada posisi tengah-tengah dari Benua Asia. Adapun selisih waktu antara Beijing dengan Jakarta hanya 1 jam sebagaimana selisih WIB dan WITA.
Luas Negara China ini luar biasa, bahkan melampui luasnya Amerika Serikat dan hampir sama dengan luas Uni Sovyet sebelum pecah.

3. Segi Populasi
Negara China mempunyai jumlah populasi terbesar di dunia, yaitu mencapai 1,3 milyar jiwa. Ini jumlah penduduk yang ada di China daratan, belum lagi bangsa China berada di luar China (Overseas China). Di Negara mana-mana pasti ada orang China , termasuk Kalpataru, Cengger Ayam, bahkan daerah yang nyelempit-nyelempit itu. Jadi, tidak ada satu kota pun di dunia ini yang tidak ada orang Chinanya. Jumlah populasi orang China yang berada di luar RRC itu kalau ditotal sekitar 600 juta jiwa. Sehingga kalau ditotal secara keseluruhan, maka jumlah populasi warga China mencapai hampir 2 milyar jiwa.

4. Segi Ekonomi
China ini adalah bangsa yang mempunyai etos kerja tinggi dan pekerja keras. Dalam satu hari, orang China mampu bekerja selama 11 jam, padahal kita saja yang berkerja 8 jam sehari sudah merasa berat. Perhatikan orang China yang buka toko. Pada pukul 06.00 dia sudah membuka toko dan tutup menjelang Maghrib, kemudian malam harinya, dia totalan. Jadi, waktu yang tersisa itu hanya digunakan untuk tidur atau untuk keperluan yang berkaitan dengan usaha dagangnya.
Di samping sebagai pekerja keras, orang China adalah pekerja cerdas. Sekarang ini, tidak ada satu barang pun di dunia ini yang tidak ditiru oleh Negara China . Suatu saat saya pergi ke pasar malem. Di sana saya ditunjukkan jam tangan merk Rolex, mulai dari yang asli seharga 70 juta Rupiah, sampai Rolex yang seharga Rp. 70.000, dan kita sulit untuk membedakan antara yang asli dengan yang palsu. Oleh karena itu, RRC mempunyai potensi luar biasa untuk menghancurkan Barat. Apalagi produksi-produksi di sana dibuat secara besar-besaran, yaitu kalau satu orang membuat 10 baju, maka dari RRC akan mengekspor sekirat 12-13 milyar baju.

5. Rasa Persaudaraan (Kecinaan)
Bangsa China mempunyai rasa “kecinaan” dunia. Jadi, kalau orang China ketemu sama orang China lainnya, perasaannya lain dibandingkan ketemu dengan kita.



6. Segi Politik

Dahulu Negara China diperintah oleh Kaisar. Tunduk kepada Kaisar adalah harga mati, sehingga pada zaman Kekaisaran, Kaisar menyuruh rakyat untuk membangon tembok besar China meski harus mengorbankan ratusan ribu jiwa. Tembok besar China ini dibangun di puncak-puncak bukit dan panjangnya sekita sepanjang 6000 KM. Kalau ada pekerja yang mati, maka langsung dikuburkan di dekat situ. Jadi, tembok besar China itu sebenarnya angker karena ada alam arwahnya.

Setelah itu Negara China dipimpin oleh Komunis. Pemerintahan Komunis ditambah dengan etos kerja bangsa China yang luar biasa, menjadikan Negara China memperoleh untung besar. Kenapa?, karena nilai yang dimakan oleh masing-masing orang China , lebih sedikit dari pada nilai hasil kerja mereka. Ibaratnya: kalau nilai kerjanya Rp. 20.000 perhari, maka dia hanya memakainya sebanyak Rp, 10.000 sehari, sedangkan yang Rp. 10.000 lainnya menjadi hak Negara, sehingga yang semakin kuat adalah Negaranya. Ini terjadi pada waktu pemerintahan Komunis dipimpin oleh tokoh bernama Mao Zedong.

Setelah Mao Zedong meninggal dunia, sistem ekonomi China diubah, namun politiknya tetap berhaluan Komunis. Artinya: orang China masih diperintahkan untuk kolektivitas, tapi ekonomi China mulai dibuka pelan-pelan. Dari situ, mulai ada ekspor dan impor, investasi, dsb. Bahkan lebih dari 4 juta anak-anak muda China , dikirim ke seluruh dunia untuk belajar membuat barang-barang yang dibuat di negara-negara yang mereka tempati. Semua itu dibiayai oleh Negara.

Akhirnya ekonomi China meledak dan berkembang sangat pesat. Kenapa?, karena bangsa China itu tidak suka hidup mewah, di samping karena budaya, juga karena faktor politik Komunisme yang dianut. Jadi, Negara China itu dari Komunis, bergeser ke arah Sosialis yang agak longgar, bahkan sekarang menjadi Kapitalis, namun bukan “dikapitalisi” oleh orang lain.

Dalam tempo kurang dari 20 tahun, kota-kota besar di China disulap menjadi lebih hebat dari Washington dan New York . Jadi, di sana saya seperti memasuki daerah yang aneh, karena saya dulu pernah ke China , tapi tidak seperti yang sekarang ini. Sekarang ini Negara China luar biasa hebatnya dan mulai menggeser posisi ekonomi Barat. Kenapa itu bisa terjadi?, karena RRC tidak mau terikat dengan semua ikatan ekonomi internasional, baik itu IMF, ILO, WTO, dsb. Sehingga RRC ini berjalan tidak berdasarkan konsensus internasional, melainkan menggelinding sendirian dengan kekuatan raksasa yang mereka miliki.
Hidup bangsa China tetep sederhana, karena mereka mempunyai budaya yang mengacu kepada filsafat Konghucu. Sekalipun bangsa China adalah komunis yang menganut ajaran tidak bertuhan (atheisme), tapi sebenarnya mereka masih mendewakan Kongfuche sampai hari ini. Orang China yang beragama Kristen menganut Konghuchu, orang China yang beragama Islam juga menganut Konghuchu, dsb. Konghuchu sudah menjadi agama negara dan agama bangsa.

Umat Islam di China tidak besar, jumlah mereka kurang lebih sekitar 50 juta saja. Apa artinya 50 juta muslim di tengah-tengah 1.3 milyar penduduk RRC. Orang Islam di sana rata-rata sudah berusia tua yang kelasnya “Husnul khatimah”. Nah, yang menarik bagi saya dan mungkin cocok dengan kandungan Hadits di atas adalah bahwa bangsa China itu selalu hidup di bawah jumlah penghasilannya. Saya kira, sikap ini perlu kamu tiru. Tidak ada orang China yang menghabiskan uang Rp. 10.000 sehari, kalau penghasilannya tidak mencapai Rp. 15.000. Ketika orang China masih berpenghasilan Rp. 5.000, maka dia hanya makan sebanyak Rp. 4.000 saja. Jadi, bangsa China itu pantang memakan habis hasil keringatnya dan harus ada sisa dari hasil keringatnya tadi.

Bangsa China sudah terbiasa hidup sederhana. Mereka bisa bikin mobil, motor, dsb. Mereka juga bisa meniru sepeda motor model Harley Davidson. Meskipun demikian, mereka jarang naik sepeda motor. Saya lihat di kota Peking, kalau orang mau bepergian yang jaraknya kurang dari 1 KM, maka mereka memilih jalan kaki; kalau lebih dari 1 KM, mereka memilih naik sepeda; dan kalau lebih dari 5 KM, maka mereka memilih naik bus. Kalau sudah kaya betul, baru mereka mempunyai mobil; itupun jarang dipakai, karena mereka lebih suka naik bus sekalipun sudah mempunyai mobil sendiri. Alasan mereka sederhana dan rasional, yaitu jalan kaki itu lebih hemat, lebih sehat, lebih selamat, dan anti-polusi.

Di sana juga banyak sepeda pancal, namun sepeda yang dipakai itu jelek-jelek, karena yang baik-baik itu untuk dijual. Jadi, bangsa China ini mempunyai sifat-sifat yang agak aneh dibandingkan dengan bangsa-bangsa yang lain. Orang China itu kalau yang terbaik untuk dijual, sedangkan yang jelek untuk dipakai sendiri. Di RRC jarang ada rumah mewah, yang banyak adalah rumah susun, maklum jumlah penduduknya milyaran orang. Sedangan bangunan yang megah-megah adalah semacam universitas, pertokoan, mall, kantor, dsb.

Orang-orang China jarang yang gemuk, padahal makannya banyak. Mereka bisa langsing karena sering jalan kaki dan berolah raga. Bahkan hampir seluruh tumbuh-tumbuhan yang berkhasiat sebagai obat-obatan, tumbuh subur di Negara China . Ibaratnya, Negara China adalah miniatur dari tanaman-tanaman yang berkhasiat obat. Lha, ini yang menginspirasi Mr. Li Xiang untuk memproduksi obat-obatan, tapi sudah dimodernisir. Pabrik yang dimiliki oleh Mr. Xiang ini sekarang sudah menguasai 1/3 pasaran obat di dunia. Dia menggunakan sistem MLM (Multi Level Marketing) dan sistem bonus, yaitu setiap orang yang berhasil menggaet pelanggan lain, akan diberi bonus. Jadi, kalau saya membuat 100 anak Al-Hikam membeli produk obatnya, maka saya akan mendapatkan keuntungan dari 100 orang tadi. Dengan sistem promosi yang berjenjang seperti ini, maka orang berlomba-lomba kaya
melalui pabrik milik Mr. Xiang ini. Bonusnya juga ndak tanggung-tanggung, ada bonus berupa pesawat, kapal pesiar, mobil, sepeda motor, dsb.

Saya kan sudah ke Eropa, Amerika, Timur Tengah, Afrika, dsb., saya melihat bangsa China ini memang aneh. Mereka lebih mendulukan bekerja dari pada makan. Jumlah yang dimakan harus di bawah hasil kerja. Sebenarnya makannya orang China itu banyak sama dengan makanya orang Arab; akan tetapi karena mereka berolah-raga terus, sehingga jarang yang gemuk. Lain hanya dengan orang Amerika, di sana ada wong gowo wetenge tok wis kabotan, mergo kakean badokan (orang bawa perutnya sendiri sudah keberatan, sebab kebanyakan makan. red). Lalu saya teringat pada Hadits Rasulullah SAW , Hadits itu ditujukan untuk urusan kehidupan duniawi.

Bangsa China ini pekerja keras dan pekerja cerdas (cetak tebal dan italic dari saya, MASH). Kalau orang Bugis, Madura dan Batak adalah pekerja keras, tapi tidak cerdas, sehingga kalau ayahnya jualan rokok di rombong, maka anaknya juga demikian. Beda dengan orang China ; kalau ayahnya jualan kacang buntelan, maka pada saat anaknya nanti, usahanya sudah menjadi pabrik kacang. Jadi, untuk faktor enterpreneurship, mungkin China itu nomer satu di dunia.

Orang Barat itu hebat dalam hal penelitian dan penemuan. Mereka meneliti sampai bisa menemukan listrik, kereta api, silinder, dsb. Adapun masalah berdagang dan mencari rezeki, jagonya adalah China . Sedangkan kalau makan tapi tidak kerja, jagonya adalah orang Indonesia . Jadi, orang Indonesia itu maunya, kalau kerja tidak berkeringat, tapi kalau makan, harus berkeringat. Berarti di sini kita mengalami hambatan budaya untuk maju.

Ini semua membuat saya mikir-mikir: seandainya ibadah, tauhid, dan akhlaq kita digandengkan dengan etos kerjanya orang China, maka saya kira, itulah yang dimaksud oleh Hadits Rasulullah SAW:
"Bekerjalah untuk duniammu, seakan-akan engkau hidup selamanya; dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati esok hari." (cetak tebal dan italic dari saya, MASH).
Kesalahan orang Islam adalah menghindari kerja keras, seakan-akan tidak berkerja keras adalah bagian dari tasawuf, padahal pandangan seperti itu adalah bagian dari kebodohan. Tasawuf itu ngeresii ati, bukan nganggur. Banyak orang Islam yang merasa mulya ketika ngganggur, tapi kok urip, padahal orang seperti ini pasti menjadi benalu atau seperti bunga teratai yang hidup terombang-ambing di atas air, sekalipun berbunga, ia tidak bisa lepas dari air. Oleh karena itu, saya ingin kamu semua mempunyai etos kerja dan enterpreneurship.

Saya melihat orang China di sana jarang omong. Mereka ngomong seperlunya, karena pekerjaan lebih mereka dahulukan. Sedangkan di sini, omong-omongan tok iso sampek 4 jam sambil ngentekno kopi 4 gelas (berbincang-bincang saja bisa sampai 4 jam sambil menghabiskan kopi 4 gelas. red), serta bercerita yang sama sekali tidak ada gunanya. Ini disebut dengan wasting time (menyia-nyiakan waktu), padahal di dalam Hadits disebutkan bahwa orang yang menyia-nyiakan waktu atau hidupnya, berarti dia sedang disia-siakan oleh Allah SWT.

Sebenarnya Islam mengajarkan etos kerja ini ketika Rasulullah SAW ditanya: “Rezeki apa yang paling baik?”, beliau menjawab; “Rezeki terbaik adalah rezeki hasil tangannya sendiri”. (cetak tebal dan italic dari saya, MASH) Kadang-kadang, karena orang tua masih cukup, maka seseorang nebeng kepada orang tua, sementara dia sendiri tidak ada mempunyai kreativitas; sehingga begitu ditinggal mati oleh orang tuanya, dia akan kelabakan.

Saya melihat bahwa perusahaan-perusahaan besar milik orang China di Indonesia, rata-rata Grand Manager-nya berusia di bawah 40 tahun. Misalnya: Gudang Garam, Djarum, dsb. Perusahaan-perusahaan itu sudah tidak dipegang oleh ayahnya, karena ayahnya sudah menjadi konsultan, sedangkan yang menjadi eksekutif commite-nya adalah anak-anaknya.

Saya sebenarnya ingin kamu berlatih dua hal, yaitu: jangan memubadzirkan waktumu, demi menegakkan etos kerja dan berusahalah berprestasi lebih tinggi dari pada apa yang kamu butuhkan.
Hal-hal seperti di atas, kalau digandengkan dengan akhlak dan tauhid, maka itulah bentuk nyata dari fiddunya hasanah wa fil-akhirati hasanah. (cetak tebal dan italic dari saya, MASH)

Negara-negara Islam, mulai dari Saudai Arabia sampai Maroko, adalah Negara-negara yang kaya, namun bukan Negara yang maju. Negara-negara di Timur Tengah menjadi Negara kaya, karena mempunyai minyaknya melimpah. Namun karena yang menyedot minyak adalah Amerika, maka Negara-negara Timur Tengah hanya dikasih 15 % dari hasil sedotan. Itu sudah membuat mereka menjadi Negara kaya, akan tetapi tidak bisa menjadikan mereka sebagai Negara maju, karena nyedot minyak saja tidak bisa. Sementara Negara-negara di Timur Tengah yang tidak punya minyak, semuanya menjadi Negara miskin, contoh: Mesir , Tunisia , Al-Jazair, Moroko, apalagi Sudan . Sudan itu ibukotanya bernama Kartoum, namun bandara Kartoum saja tidak ada WC-nya, sehingga kalau mau kencing harus melayu adoh ke tempat sing gerumbul-gerumbul (yang rimbun. red), sehabis kencing, diobati (maksudnya; diobat-abit).

Sebenarnya, perintah melihat bangsa China adalah bagian dari Hadits yang menyatakan bahwa hikmah itu adalah milik orang mukmin. Kalau hikmah itu kececer pada orang lain, maka hikmah itu adalah milikmu. Jangan karena tidak Islam, lalu kamu memusuhi mereka. Karena mutiara itu kececer dan dipegang oleh orang lain, maka ambil kembali hikah itu. Contoh: Penelitian itu kan perintah Islam, lalu kenapa kita tidak memakai hasil penelitian orang Eropa?. Dulu, sebelum orang Eropa maju, yang bisa meneliti dalam bidang kedokteran, matematika, gizi, dsb. diteliti oleh ulama’-ulama’ Islam. Oleh karena itu, ambillah hikmah dari mana saja, asal hikmah itu benar menurut syariat Islam.

Jadi, tidak bagus kalau ada orang yang membeda-bedakan antara daerah Islam dengan daerah yang tidak Islam. Karena di daerah Islam itu ada tauhid, namun ada kelemahan; sedangkan di daerah yang tidak Islam, ada kekufuran, namun ada kelebihannya. Hanya saja, sampai hari ini, orang-orang Timur Tengah, masih juga membagi peta antara Negara Islam dengan Negara tidak Islam, padahal mutiara-mutiara Islam sebagai agama, telah tercecer di sana-sana, karena tidak dipegang oleh orang muslim di negara Islam itu sendiri.
Ketika saya masuk Somalia , penduduknya begitu miskin. Kalau di sana ada orang bisa makan cukup setiap hari, itu sudah Alhamdulillah. Padahal Negara ini mempunyai tambang-tambang yang banyak. Ini semua mengingatkan kita, kenapa Negeri Islam, penduduknya miskin-miskin, sedangkan penduduk di daerah non-muslim kok tidak demikian. Ilmu memang ada di sini, namun yang melakukan adalah orang di luar Islam. Jadi, ilmu etos kerja, ilmu penelitian dan kerja keras adalah Islami. Mereka yang melakukan ilmu itu, meskipun ndak pakai syahadat; sedangkan di Negara-negara Islam pakai syahadat, tapi ilmunya tidak diamalkan. Jadi, kalau syahadat itu ibarat lokomitif, sedangkan gerbongnya adalah ilmu. Baik lokomotif maupun gerbong, itu sama-sama diperlukan. Kalau ada lokomotif ndak pakai gerbong, itu kan lucu.

Akhirnya di Negara-negara Islam, penduduknya bertentangan karena selisih paham, saling bunuh-membunuh karena selisih aliran, dsb. Jadi, Islam yang kaffah itu bukan Negara harus distempel Islam, namun unsur-unsur ke-Islam-an yang harus diterapkan di Negara itu. Nah, sekarang itu, golongan seperti Hizbut Tahrir, FPI, dsb. mengatakan bahwa Islam Kaffah adalah kalau Indonesia yang dihuni oleh banyak orang Islam ini, distempel Islam; ndak peduli apakah masyarakat di dalamnya itu menjadi maling atau tidak. Padahal yang akan dihisab nanti adalah orang-perorang, bukan institusi. Jadi yang harus bertanggung jawab adalah individu, bukan nation state-nya. Baru pemahamannya saja, mereka sudah menceng dan tidak karu-karuan. Mereka itu sebenarnya tidak kaffah, tapi merasa paling kaffah. Kemarin saya didatangi oleh Redaktur Majalah Sabili;

saya dikritik karena saya kok masih mempertahankan Pancasila, kenapa kok tidak setuju dengan Khilafah, berarti tidak kaffah. Lalu saya jawab: Lho, yang dimaksud kaffah bukan simbolistik-simbolistik, melainkan hikmah-hikmah Islam yang berserakan, kemudian dijadikan satu, itulah Islam kaffah.

Untuk mengerti bahwa shadaqah itu penting, kita cukup membaca Hadits. Akan tetapi untuk menciptaan masyarakat yang mampu bersedekah, maka tidak cukup hanya dengan menghafalkan Hadits-hadits, karena itu adalah proses perjuangan ekonomi kerakyatan. Sementara sekolah-sekolah Islam yang di Timur Tengah, isinya menghafal saja, sehingga berhenti sampai hafalan, tidak pada aktualisasinya. Dino-dino omongane dalil (sehari-hari bicara dalil. red), tapi dalil iku gak tahu dilakoni (tidak pernah dilakukan. red).
Semua ini menjadikan saya termenung. Sudah berapa Negara yang saya kelilingi, saya kira sudah lebih dari 40 Negara. Namun, untuk kunjungan ke China , rasanya lain bagi saya. Bagaimana tidak?, mereka punya sesuatu, tapi tidak mau pakai; mempunyai etos kerja tinggi, tetapi hidup sederhana; barang yang terbaik untuk dijual, sedangkan yang asal jadi, dipakai sendiri. Mereka juga jarang yang mau pakai sepeda motor, karena mengakibatkan polusi dan tidak sehat. Maka dari itu, umure wong Chino iku dowo-dowo, gak mati-mati sampek tuek tuyuk-tuyuk (umur orang china itu panjang-panjang, tidak mati-mati sampai tua. red) , bahkan mencapai usia lebih dari 100 tahun.

Jadi, budaya kita ternyata tidak produktif. Bagaimana kita bisa mempunyai budaya yang produktif, tapi etis dan tauhidi dan Islami, ini baru menjadi bangunan dari fiddunya hasanah wa fil akhriati hasanah.
Saya masih akan ke Moskow. Rusia itu dedengkot komunis dunia. Mereka telah mendirikan komunisme yang bertahan selama 70 tahun, lalu ambruk. Kenapa Rusia setelah direformasi, kok ambruk, sedangkan China setelah reformasi kok malah melejit, padahal keduanya sama-sama komunis?. Itu karena komunis di China menggunakan budaya China , yaitu makan kurang dari penghasilan; sementara orang Rusia, biaya makan melebihi kapasitas hasil kerjanya. Sekarang ini orang China pergi ke Moskow secara besar-besaran untuk menggarap pertanian-pertanian. Sehingga sekarang ini Rusia tampaknya berada di bawah kendali RRC.

Ketika saya di China , saya bertemu dengan pedagang Amerika yang berasal dari Wall Street di New york . Dia minta dengan hormat, supaya China itu tidak mengekspor barang-barang seperti sekarang ini, karena kalau ini diteruskan, maka perekonomian akan ambruk dalam 5 tahun. Jawabnya orang China : “Saya tidak ingin mengekspor barang saya, kalau rakyat Anda tidak ingin membeli barang saya”. Itungan China kan begini: Penduduk China itu berjumlah 1.3 Milyar jiwa, kalau setiap orang memperoleh bati 1$ saja, berarti untunganya sudah mencapai 1.3 Milyar dollar. Jadi, gimana mereka mau disaingi, itu kan ndak mungkin.

disalin dari catatan account FB Prof. M. AS Hikam Muhammad A S Hikam pada 20 Februari 2013 pukul 10:40 ·


Wednesday, 25 December 2013

AKHLAQ

AKHLAQ DAN JALAN KEPADANYA

Bismillah...
"Akhlaq adalah semua sifat yang tertanam dalam hati, yang dari sifat itu timbul perbuatan-perbuatan dengan mudah dan gampang tanpa memerlukan pertimbangan terlebihdahulu" [Ihya Ulumuddin, Imam all Ghazali]

Adapun menurut para Ulama Sufi, bahwa untuk mencapai akhlaq diperlukan metode :

① Takholliy - التخلي: metode / cara dimana seseorang dituntut untuk meninggalkan sifat-sifat madzmumah (tercela), oleh karenanya seeorang yang sudah Takholliy dituntut menghindari :
√ al Ghibah : menggunjing, rasan2 (jw)
√ ad Dzulmu : berbuat aniaya
√ al Bukhlu : kikir/pelit
√ al Ghadzab : Pemarah

② Takhalliy - التحلي: metode dimana seseorang dituntut mengisi hidupnya dengan sifat2 mahmudah, sebagai konsekuensinya, seseorang yang sudah takhalliy diminta untuk mengisi hidupnya dengan :
√ ad Dhifayah : menghormati tamu
√ al Ihsan : berbuat baik
√ al Ghufron : suka memberi maaf
√ al Amanah : dapat dipercaya

① Tajalliy : adalah orang yang sudah merasakan keagungan Allah Ta'ala, orang yang sudah tajalliy dituntut untuk melakukan :

√ al Muhasabah : menghitung-hitung amal sendiri, berapa banyak amal baik dan buruk yang ia lakukan

√ al Musharathah : memperingati diri sendiri agar tak bermaksiat kepada Allah Ta'ala

√ al Muraqabah : mengawasi diri agar tidak bermaksiat kepada Allah, sehingga diri dekat denganNya

√ al Mu'aqabah : menyesali diri sendiri karena telah melanggar perintah Allah Ta'ala

#Wallahu a'lam

Thursday, 28 November 2013

JAWABAN MENGENAI ISU ISU KONFLIKSURIA SUNNI VS SYIAH

Adalah Dean Henderson, seorang kolumnis
ternama yang juga aktivis lingkungan,
pernah menyatakan dengan lugas bahwa
konflik yang terjadi di Suriah bukan
sebagai konflik sektarian antara
kelompok Sunni-Syiah, melainkan konflik
politik global yang melibatkan
kepentingan Barat di negara tersebut.
Adapun perpecahan Sunni-Syiah hanya
digunakan sebagai isu untuk membagi
Suriah hingga negara itu jatuh ke dalam
“pelukan” kepentingan Barat seperti
negara-negara Timur Tengah lainnya.
Dean benar! Tidak hanya di Suriah, isu
Sunni-Syiah adalah bahan bakar yang
cukup murah dan mumpuni untuk
membelah muslim sehingga berujung
kepada menumpahkan darah sesamanya.
Saya dahulu pernah menulis satu artikel
mengenai adanya rekayasa di balik
konflik Sunni-Syiah yang kembali
mencuat tajam dalam dekade terakhir,
terutama pasca revolusi Islam yang
terjadi di Iran pada medio 1979.
Ketika itu saya mengutip dokumen dari
RAND Corporation, lembaga “think-
thank” AS yang juga merupakan partner
dari Departemen Pertahanan AS. Sebagai
catatan tambahan, lembaga yang sama
pula pada tahun 1998 pernah merilis
perlunya Indonesia untuk dipecah menjadi
8 bagian. Timor-Timur (yang telah
dikonkritkan), Aceh, Ambon, Irian Jaya,
Riau dan Bali, sisanya tetap menjadi
bagian dari Indonesia.
Khusus untuk Suriah, maka agaknya
kembali isu Sunni-Syiah dikobarkan di
sana. Media-media Barat secara intens
menggambarkan bahwa konflik Suriah
adalah konflik sektarian antara kelompok
Sunni dan Syiah. Mirisnya, propaganda ini
justru ditelan mentah-mentah dan
serampangan oleh berbagai media Islam
di Indonesia. Secara massive media-medi
Islam itu memprovakasi para pembawanya
dengan membesar-besarkan tema
perseteruan antara Sunni-Syiah, dan
mengesampingkan gejolak Timur Tengah
belakangan ini.
Padahal, jika dicermati dengan jernih,
maka konflik di Suriah sangat tidak
tepat bila digambarkan sebagai konflik
sektarian antara Sunni dengan Syiah.
Walaupun secara madzhab, Bashar Al-
Asad adalah seorang Alawi, namun
“Syiah”-nya Bashar sangat berbeda
dengan Syiah Iran. Asad bukanlah
pendukung dari konsep “Wilayatul Fakih”
atau pemerintahan ulama di Iran. Ia -
Bashar- adalah penyokong partai Ba’ath
dengan pandangan hidup dan politik
sekuler ala Barat.
Fakta ini juga diperkuat bahwa di sekelilingnya terdapat banyak ulama
Sunni yang mendukung kepemimpinannya.
Belum lagi fakta bahwa mayoritas
pasukan Suriah adalah Sunni, dan bukan
Syiah. Sebagaimana mayoritas
masyarakat di Suriah adalah pemeluk
Islam bermadzhab Sunni, dan bukan
pemeluk Islam madzhab-nya Bashar.
Sehingga sangat sungguh menggelikan
bila di berbagai media segelintir pihak
dengan “semangat 45″ menghembuskan
isu bahwa konflik di Suriah adalah konflik
sektarian antara Sunni-Syiah.
Parahnya, mereka menganggap
perseteruan itu sebagai “jihad”?
Jika demikian, lalu mengapa Iran terkesan
turut serta dalam konflik Suriah?
Sebelumnya, perlu disimak bahwa Iran
bukan satu-satunya negara yang
berperan di Suriah, melainkan banyak
negara. Sebut saja Amerika Serikat dan
sekutunya, Saudi Arabia, Qatar, Turki,
Rusia, China, dan lainnya. Dengan
demikian penyebutan Iran sangat
memberi kesan kepada publik bahwa
konflik di Suriah adalah konflik Sunni-
Syiah. Padahal bukan!
Saya lebih cenderung beranggapan
bahwa dukungan Iran kepada Bashar Al-
Assad bukan dilatarbelakangi oleh
keyakinan (silakan cermati bahwa
kekuasaan politik Bashar dibangun dan
disokong oleh kekuatan Partai Ba’aath
yang beridologi sosialis dan sekuler).
Alasan utama Iran mendukung Suriah
ialah tak lebih kepada karena Suriah
selama ini menjadi aliansi strategis Iran
dalam menghadapi ancaman Israel. Sudah
bukan rahasia, Poros segitiga (Suriah,
Iran, Hizbullah) adalah poros Timur
Tengah untuk melawan Israel. Suriah pula
adalah negara yang diduga sebagai
perpanjangan tangan Iran dalam
menyokong Hizbullah di Lebanon Selatan,
yang nota bene pernah berperang secara
terbuka dengan Israel.
Walhasil, menyatakan bahwa konflik
Suriah adalah konflik sektarian adalah
kesimpulan yang terlalu gegabah dan
terburu-buru. Ada banyak kepentingan
asing yang bermain di Suriah. Dan isu
Sunni-Syiah -sekali lagi - hanya
digunakan sebagai kendaraan
tunggangan untuk memutuskan
kepentingan asing tersebut. Mengapa?
Karena tidak ada lagi bahan bakar yang
paling murah untuk membakar kecuali isu-
isu Sunni-Syiah. Dalam hal ini Saudi
dengan Wahabi-nya menjadi aktor
utama dalam menyiramkan isu-isu yang
sebenarnya harus telah usai tersebut.

Wednesday, 13 November 2013

MALAIKAT YANG DATANG KE DALAM KUBUR SEBELUM MUNKAR DAN NAKIR

Diriwayatkan dari Abdullah ibn Salam : seorang malaikat akan menemui mayit sebelum Munkar dan Nakir, wajahnya berkilat seperti matahari, ia bernama "Ruman" , 

ia masuk dan duduk di samping mayat, dan berbicara padanya "tulislah apa yang sudah engkau perbuat berupa kebaikan dan keburukan !"
Ia pun menjawab : "bagaimana aku menulis, mana penaku, tintaku dan peralatanku?"

Malaikat pun menjawab : "ludahmu sebagai tintanya, telunjukmu sebagai penamu"

Ia bertanya "pada apa aku menulis, sedangkan aku tak mempunyai lembaran (kertas)?"

Rasulullah s.a.w melanjutkan cerita, : malaikat kemudian merobek kafannya selembar dan memberikan kepada si mayat dan berkata "ini lembaranmu, tulislah !"

Dia pun menulis apa yang ia kerjakan di dunia berupa kebaikan2, dan ketika sampai pada amal buruk, ia merasa malu.

Malaikat menegurnya, "wahai orang yang berbuat salah mengapa Engkau tiada malu kepada Tuhanmu ketika engkau melakukan itu di dunia, dan kini Engkau malu kepadaku?"

Malaikat pun mengangkat pemukul dan memukulkan kepadanya.
si Mayit berkata " angkatlah dariku, baiklah, aku akan menulisnya"
Ia kemudian menulis semua amal baik dan amal buruknya, malaikat lalu menyuruhnya melipat dan menyetempel, maka ia lipat dan bertanya "dengan apa aku menyetempelnya?"

Malaikat menjawab "dengan kukumu", ia pun menyetempel dengan kuku, dan ia menggantungkannya pada leher sampai hari kiamat seperti firman Allah Ta'ala :

"Dan tiap-tiap manusia itu telah Aku tetapkan amal perbuatannya pada lehernya. Dan Ku keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah kitab yang dijumpainya terbuka." (QS. Al Isra' : 13).

setelah selesai malaikat Ruman, masuklah Malaikat Munkar & Nakir.
Seperti itulah ketika sang Pemaksiat melihat kitab catatannya (hasil observasi dan supervisi Rokib & Atid) di hari kiamat, dan kala Allah Ta'ala memerintah untuk membacanya, maka ia membaca kebaikannya dan apabila telah sampai pada catatan keburukan, maka ia diam.

Allah Ta'ala pun berfirman : kenapa kau berhenti membaca?, pemaksiat menjawab "aku malu padaMu" . Allah Ta'ala menimpali, "kenapa kau tidak malu (saat melakukannya) di dunia, dan sekarang kau malu (membacanya) karenaKu?".

Maka menyesal lah hamba pendosa tersebut dan penyesalannya tiada berguna, Allah Ta'ala berfirman : "Peganglah ia lalu belenggulah tangannya ke lehernya, kemudian masukkanlah ia ke dalam neraka yang menyala-nyala".(QS. Al Haaqqah:30-31).

#Wallauhu_a'lam      13/11/13  22:22
Ditarjamah oleh Komunitas Ngaji SPP dari kitab Daqoiqul Akhbar : Malaikat yang datang ke kubur sebelum Munkar & Nakir

Saturday, 19 January 2013

Syaikh Mustafa Mas’ud al-Naqsabandi al-Haqqani & Kisah Abu Bakar ra digigit ular



Syaikh Mustafa Mas’ud al-Naqsabandi al-Haqqani

Syaikh Mustafa lahir di Jombang, 25 Januari 1947. Ia adalah ulama sufi Ahlusunnah Wal Jamaa’ah yang menempuh pendidikan di pesantren Darul ’Ulum Jombang, IAIN Sunan Kalijaga Jogjakarta.

Setelah itu, Mustafa, yang kini membimbing 90 zawiyyah thariqat Naqsabandiah Haqqani di Indonesia, melanjutkan studinya ke School of Oriental African Studies (SOAS) University of London, dan Studies Johann Wolfgang Goethe Universitat, Frankfurt Am Mainz, Jerman.

Sebelum mengabdikan 100 persen waktunya untuk dakwah, ia pernah menjadi peneliti di LP3ES,dosen STAN Jakarta, dosen Universitas Ibnu Khaldun Bogor, dosen Universitas Kebangsaan Malaysia. Pernah juga ia bekerja di Kementerian Belia dan Sukan dan Kuala Lumpur HRDC Trainer Malaysia.

Tahun 1997, ia ditunjuk oleh Maulana Syaikh Nadzim Al Haqqani Ciprus dan Maulana Syaikh Hisyam Kabbani Ar Robbani USA sebagai The Representatif of The Naqsybandi Sufi Order Indonesia.

Sejak saat itu, Syaikh Mustafa melepaskan profesinya dan mendedikasikan seluruh kehidupannya untuk dakwah berkeliling ke seluruh penjuru Indonesia membimbing umat agar mencintai Rasulullah.

Di bawah perintah dan bimbingan Maulana Syaikh Nadzim, metoda dakwah Syaikh Mustafa mengedepankan semangat mencintai Rasulullah SAW, perdamaian, toleransi, cinta, kasing sayang dan persaudaraan.


Dialog Moh Yasir Alimi, PhD, mantan pengurus PCI NU Cabang Istimewa Australia dan New Zealand (2005-2009) tentang jalan kesufian dengan Syaikh Mustafa Mas’ud al-Naqsabandi al-Haqqani.

Syaikh, terangkan kepadaku apa hakekat thariqat?

Thariqat adalah suatu kebersamaan dengan syaikh, untuk melebur ego, ke dalam suasana adab agar hati yang bersangkutan bisa merasakan arti fana missal fi adhomatil akhirat. Bukan suntuk cuma dengan dunia saja. Thariqat juga tentang azimah, keterkaitan dengan Rasulullah, akhlaknya, sunnahnya, tentang adhomatil Quran; tentang kemaslahatan hidup; tentang iklim saling kecintaan terhadap sesama manusia; tentang barokah kesalehan; tentang pertalian antara hamba dengan Allah; tentang hudhur, tentang getar dalam hati kita akan kehadiran Allah. Inilah antara lain mutiara-mutiara Islam yang makin terasa hilang; maka temukanlah kembalimutiara itu melalui thariqat.

Bisa dijelaskan lagi Syaikh, tentang rasa cinta dan getar di dada itu?

Lihatlah kecintaan dan getar hati Abu Bakar. 1427 tahun yang lalu, ketika Rasulullah harus hijrah ke Madinah. Beliau mengajak Sayidina Abu Bakar, orang yang sangat dekat dengan Beliau untuk menjadi pendamping dalam perjalanan menuju ke Madinah.

Sayidinia Abu Bakar dengan penuh adab yang bersungguh, kata kuncinya dengan "Penuh Adab yang Bersungguh", di ajak ke Madinah. Harusnya dari kediaman Beliau berjalannya adalah ke Utara, karena Madinah secara geografis terletak di Utara dari Mekah, tetapi Rasulullah berjalan menuju ke Tenggara. Sayyidina Abu Bakar boro-boro complain (mengeluh), criticizing, bertanya pun tidak, jare nang Madinah, lha kok ngidul, kenapa lewatTenggara?

Itu cermin apa, Syaihk?

Itu cerminan dari Adab. Dengan penuh kecintaan, Sayyidina Abu Bakar yang lebih tua dari Rasulullah, yang punya kelayakan psikologis untuk mempertanyakan, untuk meminta kejelasan seperti yang barangkali terjadi dalam kehidupan kita sekarang yangmenjadi ruh dari reformasi, segala hal dipertanyakan sehingga batasan antara adab dan tidak adab, luber, hilang.

Sayyidina Abu Bakar tidak bertanya, Beliau ikut saja apa yang dibuat oleh Rasulullah, karena di hati Beliau ada "cinta" dan “percaya" dan sesuatu yang tidak lagi perlu tawar-menawar. Rasulullah Al Amin,tidak pernah keluar dari lidah Beliau sesuatu yang tidak patut tidak dipercaya. Pribadinya penuh pancaran kecintaan. Mencintai dan sangat pantes dicintai.Pribadinya begitu rupa menimbulkan `desire', suatu kerinduan. Ini sebenarnya yang menjadi sangatpenting untuk dijelaskan.

Nabi Muhammad berjalan. Sayidina Abu Bakar mengikuti. Ketika akan sampai, 8 km dari arah Masjidil Haram, baru Sayidina Abu Bakar sadar. "Ooo … Mau istirahat ke Gua Tsur, karena sudah mendekati Gunung Tsur. Ketika Rasulullah naik, Oooo…kesimpulan Sayidina Abu Bakar.” With no curiousity, tidak dengan rewel, tidak dengan mempertanyakan, memaklumi.

Pertama-tama, dalam Islam yang kita butuhkan bukan`ngerti' syariat, tapi cinta terhadap yang mengajarkannya dan Dzat Maha Suci yang menurunkannya. Tanpa kacamata tersebut, tanpa rasa cinta tersebut, kita tidak akan mengerti Islam. Islam hanya menjadi "The Matter of Transaction", tawar menawar. Itu tidak terjadi pada Abu Bakar. Begitu Rasulullah mau naik ke arah gua, di Jabal Tsur itu, maka kemudian Beliau (Abu Bakar) menarik kesimpulan, "Oooo … Rasulullah mau istirahat di Gua Tsur."

Beliau (Abu Bakar) mengerti sebagai orang gurun, tidak akan pernah ada lubang bebatuan di gunung, pasti ada ular berbisanya. Itu reason, pikiran digunakan sesudah ‘cinta’, sesudah tulus, sesudah bersedia untuk patuh. Itu namanya pikiran yang well enlighted, pikiran yang tercerahkan, bukan pikiran yang cluthak (tidak senonoh), yang bisa bertingkah macam-macam, menimbulkan problem.

Lantas, apa yang kemudian dilakukan Abu Bakar?

Beliau kemudian mendekati Rasulullah, kasih aku kesempatan masuk. Rasulullah dan Abu Bakar, interespecting, saling menghargai. Sayidina Abu Bakar masuk gua. Gua itu kecil kalau diisi 3. Barangkali sudah kruntelan di situ, kayak bako susur yang dijejel-jejelkan (dimasukkan) ke mulut. Sayidina Abu Bakar masuk, beliau cari, bener ada lubang di situ. Beliau buka sandalnya, ditaruhnya kaki kanannya di mulut lubang itu. Dengan cinta, Beliau korbankan kakinya untuk Rasulullah. Beliau tidak mau Rasulullah digigit ular.

Akhirnya kakinya dicatel (digigit) oleh ular. Kemudian Beliau bilang, “Silakan masuk Rasulullah dengan penuh cinta, dengan penuh pengorbanan dan husnudzon.” Rasul masuk dan berbaring dipaha Abu Bakar. Rupanya Rasulullah terkena angin sepoi-sepoi pagi. Beliau tertidur. Ketika Beliau tertidur, ketika itu pulalah Abu Bakar menahan bisa dari ular yang sudah mulai menjalar ke seluruh tubuh. Abu Bakar berkeringat, dan diriwiyatkan bahwa keringatnya sudah berisi darah. Tetesan keringat Abu Bakar mengenai Rasulullah.

Bagaimana respon Rasulullah, Syaikh?

"Nangis Sampean?” tanya Rasulullah.
"Tidak,” jawab Abu Bakar, “kakiku digigit ular."
There was something happen. Ditariknya kaki Abu Bakar dari lubang itu, maka kemudian Rasulullah berkata pada ular.
" Hai Tahu nggak Kamu? Jangankan daging, atau kulit Abu Bakar, rambut Abu Bakar pun haram Kamu makan?"

Dialog Rasulullah dengan Ular itu didengar pula oleh Abu Bakar as-Shidiq, berkat mukjizat Beliau.

"Ya aku ngerti Kamu, bahkan sejak ribuan tahun yang lalu ketika Allah mengatakan ‘Barangsiapa memandang kekasih-Ku, Muhammad, fi ainil mahabbah atau dengan mata kecintaan. Aku anggap cukup untuk menggelar dia ke surga,” kata ular.
“Ya Rabb, beri aku kesempatan yang begitu cemerlang dan indah. “Aku (ular) ingin memandang wajah kekasih-Mu fi ainal mahabbah,” lanjut ular.

Apa kata Allah?

"Silakan pergi ke Jabal Tsur, tunggu disana, kekasihKu akan datang pada waktunya,’ jawab Allah.
“Ribuan tahun aku menunggu disini. Aku digodok oleh kerinduan untuk jumpa Engkau, Muhammad. Tapi sekarang ditutup oleh kaki Abu Bakar, maka kugigitlah dia. Aku tidak ada urusan dengan Abu Bakar, aku ingin ketemu Engkau, Wahai Muhammad. "

Apa pesan dari cerita Sayidina Abu Bakar, Syaikh?

Rasa cinta Abu Bakar As-Shiddiq pelajaran yang sangat essential, bukan textual. Cerita tentang Islam seperti terdeskripsi dalam Al-Qur'an, dalam hadits, tidak dapat kita tangkap muatan sebenarnya yang ada di dalamnya bila tidak dengan hati, with no sense, with no heart.

Gaya hidup di dada Abu Bakar dalam bercinta, dalam berkerendahan hati, dalam berketulusan, dalam berkesediaan untuk patuh, dan untuk membuat pengkhidmatan, itu adalah rukun Islam yang tidak tertulis. Semua ini adalah muatan di dalam kehidupan Rasulullah.

Lihatlah kehidupan sekarang. Aku dan kamu setiap hari secara mauqut diberikan kesempatan untuk mengucapkan "Assalamu'alaika ya ayyuhan nabiyyu warahmatullah". Tapi with no sense, with no heart, belum sempat Rasulullah kita pindahkan ke perasaan, ke hati kita, belum sempat akhirat kita hadirkan ke dalam rasa kita Bagaimana aku dan kamu bisa menjadi `abid, bagaimana aku dan kamu menjadi shakir, bagaimana aku dan kamu menjadi muttaqiin dan seterusnya dan seterusnya. Itulah persoalan kita. Maha mulia Allah yang memberi kita rahmat dan taufiq, supaya kita semuanya berkhidmad.

Saya semakin paham maksud Syaikh. Thariqat adalah tentang azimah keterkaitan dengan Rasulullah. Terangkanlah lebih luas lagi kepadaku tentang hal ini agar kepala dan hati kami menjadi terang?

Azimah adalah lawan kata dari ruskhsah, yaitu keringanan, selanjutnya yang enteng, kemudian dalam praktek bias jadi perilaku atau suasana hati yang ngentengin. Ini salah kaprah dalam ibadah. Bisakah tukmaninah dan khusuk dalam bobot enteng-enteng saja, cuma sekilas sambil lalu?

Di situ ada nada yang hilang dan menguap; sejenis kesungguhan, ikhlas, istiqamah, ihsan, hudlur, getar hati. Ini bisa didapatnya melalui thariqat. Nah Rasulullah adalah mainstream kehadiran kita terhadap kehadiran Allah, dalam aneka perspektif yang ada, akhlak, aqidah, syariat, ibadah, sastra. Bukan Al-Quran hadits sendiri.

Kemasannya musti azimah, jangan sampai cuma suplemen, asesoris, cuma seremoni apalagi dikontroversikan sebagai bidah, perlu rumusan paradigm yang benar-benar akurat. Di sini pentingya istighfar di thariqat: min kulli ma yukholiful azimah.

Jadi saat ini pun, kita semestinya senantiasa menjaga pertalian ruhani dan batin terhadap Rasulullah agar mendapatkan rahmat Allah.

Ya Yasir, berangkat dari aturan dalam tahiyat shalat, kita diniscayakan untuk direct communication dengan beliau, apakah telah cukup kadar esoteric dan kesungguhan dalam bersalaman kepada beliau? Di tharikat ini justru dijadikan urat nadi ibadah kita, bahkan hidup kita pada dasarnya dan secara menyeluruh bertumpu pada Rasulullah. Ini merujuk pada hadis Qudsi.

Hadits pertama, Ya Muhammad Aku berkenan untuk mencipta manusia, walau mereka suka seenak sendiri, Aku menjadikan mereka pilihan-Ku karena itu mereka Kuserahkan dan Kutitipkan kepadamu Muhammad, sentuhlah qalbu mereka olehmu agar tak ngaco-ngaco banget, kembalikan mereka kelak pada-Ku di akherat dalam keadaan fitri sebagaimana ketika Kuserahkan padamu”.

Hadis Qudsi kedua. Suatu ketika Rasulullah memampak sosok yang tak beliau kenali, padahal beliau paham semua orang, maka sabda beliau:
“Siapa kamu?”
“Aku Iblis” tukas orang asing itu.
“Lho kok ngaku biasanya kan kamu menipu?” Tanya Rasulullah.
“Aku diperintah Allah untuk datang kepadamu dan menjawab secara benar”.
“Ooo.. “siapa yang paling tak kamu sukai?” tanya Nabi.
“Kamu,” jawab iblis tegas.
“Kenapa,” tanya Rasulullah.
“Orang yang bersama Kamu tak dapat kugoda,” jawab iblis.

Banyak orang sulit memahami ini karena menganggap Rasulullah sudah mati, Syaikh?

Yang mati kita, bukan Rasulullah.

Sumber:

www.nu.or.id

http://ahadan.blogspot.com/2012/10/kisah-abu-bakar-digigit-ular-dialog-sufi.html

Friday, 28 December 2012

INSAFNYA PENGINGKAR KITAB IHYA ULUMIDDIN



 
 
Syaikh Abdullah bin As’ad Al-Yafi’i bercerita, bahwah Syaikh Abul Hasan Ali bin
Harzahim Al-Faqih Al-
Maghrobi, adalah orang yang
sangat di dengar dan
di patuhi kata-katanya oleh banyak orang kala itu, dan Ia
adalah juga orang yang sangat mengingkari kitab
Ihya’ Ulumiddin.
Pada suatu saat Ia memerintahkan
masyarakat agar mencari dan mengumpulkan naskah-naskah kitab Ihya’, Ia bermaksud membakarnya di
Masjid Jami’ pada hari Jum’at di saat orang-orang berkumpul guna menjalankan ibadah sholat
Jum’at.
Akan tetapi pada malam jum’atnya, Ia bermimpi masuk kedalam masjid jami’
dan mandapati Nabi
Muhammad saw, Abu Bakar ra dan Umar bin Khotthob ra
sedang duduk-duduk disitu,
sementara Imam Ghozali sedang berdiri dihadapan
Nabi Muhammad saw. Ketika
Al-Faqih As-Syaikh Abul Hasan Ali bin Harzahim Al-
Maghrabi masuk kedalam masjid, Imam Ghozali berkata
kepada Nabi Muhammad
saw:

“Itulah orang yang
memusuhiku wahai
Rasulullah, Jika yang benar adalah seperti apa yang Ia yakini, maka aku akan
bertaubat kepada Allah saw.
Tetapi jika tenyata apa yang aku tulis adalah yang benar,
berkat barokah dan karena
mengikuti sunnahmu, maka ambilkan hakku untukku dari
musuhku”.

Mendengar laporan Imam Ghozali, Nabi Muhammad saw lantas mengambil kitab Ihya’ dan membukanya
selembar demi selembar dari
awal hingga akhir, lalu Nabi
Muhammad saw berkata:

“Demi Allah sesungguhnya
kitab ini adalah sesuatu yang
bagus”.

Kemudian Abu Bakar
ra pun mengambil dan memandanginya selembar- demi selembar, demikian
juga Umar bin Khotthob ra,
keduanya sama-sama
menyatakan kesalutan dan simpatinya terhadap kitab
ihya’ yang mereka anggap bagus.
Setelah menyimak dan mentela’ah isi kandungan
kitab Ihya’ Ulumiddin Nabi Muhammad lalu memutuskan
untuk menghukum cambuk
Al-Faqih As-Syaikh Abul Hasan Ali bin Harzahim Al-
Maghrabi karena
kebohongannya. Tetapi baru sampai pada cambukan yang
kelima, Abu Bakar ra
bermaksud menolongnya
dengan berbicara kepada Nabi Muhammad saw:,

“Ya Rasulullah,
mungkin saja ia
menganggap bahwa isi kandungan kitab Ihya’menyalahi sunnahmu, tetapi
ternyata ia keliru”.

Rasulullah Saw
menyerahkan seluruhnya
kepada Imam Ghozali, dan Imam Ghozali pun menerima usulan yang dikemukakan
oleh Abu Bakar, juga sudi memaafkan kesalahan Ibnu
Harzahim Al-Maghrabi.
Sampai disini Ibnu Harzahim
terbangun dari tidurnya dan
mendapatkan adanya bekas cambukan dipunggungnya.
Kemudian ia
memberitahukan hal ini
kepada pengikut-
pengikutnya dan
menyatakan bertaubat kepada Allah atas
kekeliruannya juga meminta maaf kepada Imam Ghozali.
Hari demi hari berlalu, tetapi
nyeri bekas cambukan itu masih saja di rasakannya,
akhirnya ia putuskan untuk lebih mendekatkan diri dan
lebih menghibah lagi kepada Allah saw serta meminta
pertolongan Allah swt
dengan lantaran Nabi
Muhammad saw, sampai akhirnya ia kembali memimpikan Nabi saw
mendatanginya lalu
mengusapkan tangan beliau yang mulya kepunggungnya,
lantas sembuhlah
punggungnya atas izin Allah swt.
Setelah kejadian ini, Ibnu Harzahim terus menerus mengkaji kitab Ihya’ Ulumiddin, sehingga Allah
swt membuka hatinya,
menjadikannya orang yang ma’rifat billah dan menjadi
salah seorang dari akaabirul masyaayikh dalam bidang
ilmu dzohir dan ilmu bathin.
Semoga Allah swt
memberinya rahmat.
Syaikh Abdullah bin As’ad Al- Yafi’i Sang perowi cerita ini
berkata:
“Cerita ini saya
dapat dengan sanad yang shohih, dari waliyullah ke
waliyullah, yaitu dari Asy-Syaikhul kabir Al-Quthb Syihabuddin Ahmad bin Al-
Milaq Asy-Syadzili dari
gurunya Asy-Syaikhul kabir Al-‘Arif billah Yaqut Asy-Syadzili dari gurunya Asy-
Syaikhul kabir Al-‘Arif billah Abil ‘Abbas Al-Mursi dari
Syaikhus Syuyukh Abil Hasan Asy-Syadzili, yaitu seorang
waliyullah yang semasa dengan Ibnu Harzahim. Asy-Syaikh Abil Hasan Asy-Syadzili berkata:
“Dan sewaktu Ibnu
Harzahim rahimahullah
meninggal dunia, bekas cambukan itu masih tampak
jelas dipunggungnya”.
Sumber cerita, Kitab Ta’riful Ahya’ Bifadlooilil Ihya’ lisy
Syaikh Al-Allamah Abdul Qodir bin Syaikh bin Abdullah
Al-Idrus yang wafat pada tahun 1038 H.
Sumber : http://
www. kang mahfudz.co.cc

Tuesday, 13 November 2012

FITRAH MANUSIA (Hadits Tarbawy)


عن أبى هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : كل مولود يولد على الفطرة فأباه يُهوّدانه أو ينصرانه اويمجسانه (رواه مالك)
Mayoritas ulama berpendapat bahwa setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, termasuk anak dari seorang non muslim. Hal ini didasarkan pada riwayat al Hafidz Abu Bakar al Yaqani dari Samurah dari Nabi sallallahu alaihi wasallam beliau bersabda :
كل مولود يولد على الفطرة, فناداه الناس : يا رسول الله, وأولاد المشركين؟ قال : نعم, وأولاد المشركين

fitrah yang dimaksud dari hadits di atas adalah iman bawaan dari lahir yang telah diberikan oleh Allah Ta’ala dalam alam lahir
QS Al A’raf 72 :
 Mengetahui fitrah sebagai potensi dan sifat dasar manusia mempunyai manfaat sbb :
1.    Memberikan rasa optimis terhadap kesuksesan meraih cita-cita masa depan
2.    Menanamkan kepercayaan diri melalui potensinya sendiri untuk melakukan sesuatu yang baik dan benar serta menjauhi yang mungkar
3.    Mengacu untuk mengejar semua yang baik dan menghindari yang keliru
4.    Membangkitkan semangat untuk mengembangkan berbagai potensi manusia yang meliputi :
1.    Potensi kalbu
2.    Potensi akal
3.    Potensi fisik

Fitrah anak perlu mendapat perhatian, dipelihara dan dikembangkan, terutama oleh kedua orang tua selaku pembina dan penanggungjawab dalam kehidupan keluarga. Merekalah yang berperan dan berpengaruh dalam membentuk keperibadian anak-anak dan mengarahkan masa depan mereka.

Fitrah yang menjadi dasar filosofis yang paling fundamental dari struktur bangunan pendidikan Islam.

(Dr. H. Abd. Munir, MA)

Tuesday, 30 October 2012

MELURUSKAN KESALAH-PAHAMAN KONSEP BID'AH



Iftitah

Entah apa yang menjadi penyebabnya, yang jelas akhir-akhir ini terdapat kelompok di
kalangan kaum muslimin yang memiliki kegemaran mengkafirkan, mensyirikkan,
membid'ahkan dan menyesatkan sesama muslim yang lain. Kelompok ini
beranggapan bahwa pemahaman Islam yang paling murni dan paling benar adalah
pemahaman mereka, sedangkan pemahaman kelompok yang lain adalah keliru, sesat
dan menyimpang dari ajaran yang sebenarnya.

Energi kaum muslimin banyak terkuras dan bisa jadi habis gara-gara masalah ini,
padahal masih terlalu banyak yang bisa dipikirkan dan diperbuat untuk kepentingan
izzul Islam wa al-muslimin. Harus diakui bahwa sampai saat ini mayoritas kaum
muslimin masih hidup dalam kondisi " fakir", baik dari sisi ekonomi, maupun dari sisi
keilmuan. Memikirkan dan menuntaskan permasalah ini dengan "kebersamaan" jauh
lebih bermanfaat untuk kepentingan Islam dibandingkan dengan "mengembangkan
hobi" menyesatkan kelompok Islam yang lain, karena kefakiran dapat menjerumuskan
seseorang kepada kekafiran.

Hal ini bukan berarti permasalahan bid'ah, syirik, kafir dan lain sebagainya tidak
penting. Wacana ini tetap penting, Akan tetapi, harus ditempatkan pada kerangka
permasalahan yang "furu'iyah" dan "mukhtalaf fih". Maksudnya, masing-masing
kelompok memiliki argumentasi dan oleh sebab itu tidak diperlukan sifat saling
menyalahkan, apalagi saling menyesatkan. Bukankah kaidah fiqh mengatakan : la
yunkaru al-mukhtalafu fihi wa innama yunkaru al-mujma'u alaihi.

Perbedaan pendapat tentang permasalahan agama sangat mudah dirunut dan
diklarifikasi, karena semua proses ijtihad yang dilakukan oleh siapapun harus sesuai
dengan logika dan kaidah ijtihad yang sudah disepakati bersama.

Seputar permasalahan bid'ah
Untuk memperjelas permasalahan bid'ah, maka perlu ditegaskan terlebih dahulu
definisi bid'ah, kemudian dilanjutkan dengan pembagian dan permasalahan lain yang
biasa diperbincangkan seputar ......

http://www.4shared.com/office/4z-0YR9l/ELURUSKANKESALAH-PAHAMANKONSEP.html

BID'AH 2

http://www.4shared.com/office/De9Pl7kc/MELURUSKANKESALAH-PAHAMANKONSE.htmlm

Wednesday, 10 October 2012

~10 HAK ANAK TERHADAP ORANG TUA~



KH. ABDUL JALAL
Sabtu, 06 Okt 2012


Rasullullah sallallahu alaihi wasallam bersabda : “Ridha Allah tergantung keridhoan ibu bapak, dan murka Allah tergantung murka ibu bapak”
1. Memberi makan orang tua ketika mereka tidak mampu mencari sendiri.
Dan Kami perintahkan kepada manusia kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun . Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Ku lah kembalimu.(QS Lukman : 13)

2. Memberikan pakaian orang tua ketika mereka sudah tidak mampu membeli pakaian sendiri
Orang tua sangat senang bila dibelikan pakaian oleh anaknya, walaupun sangat sederhana bentuk pakaian tersebut, walaupun waktu kecil anak tersebut sering rewel ketika dibelikan pakaian.

3. Ketika mereka butuh dilayani maka layanilah, seperti menuntun, menggendong, dan lain-lainnya. Ingatlah mereka menggendong kita sewaktu kecil dengan senang hati.
Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah . Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo'a: "Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni'mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri"(QS Al Ahqaf : 15)

4. Cepat memenuhi panggilannya.
Ketika zaman khalifah Umar bin Khattab ada seorang yang mengadu tentang hak ibunya, : “Wahai Khalifah, aku mempunyai ibu yang sakit aku selalu merawatnya, aku menyuapinya ketika makan, aku tidak tidur jika beliau belum tidur, dan menggendongnya kemanapun ia ingin pergi, apakah sudah cukup hak beliau? Umar menjawab : “belum, adapun Ibumu memeliharamu adalah dengan senang hati mengharap kau tumbuh besar dan sehat, sedangkan engkau merawatnya tapi dalam hatimu lain dengan harapannya kepadamu sewaktu kecil”.

5. Hendaknya berkata halus kepada orang tua.
Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia .(QS Al Isra’ : 23)

6. Menaati perintah kebaikan mereka dan menjauhi perintah maksiat mereka.
Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Ku lah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.(QS Lukman : 14)

7. Janganlah memanggil mereka (ortu sendiri) dengan embel-embel nama.
Misalnya nama ibu kita Aisyah, maka jangan sampai menyebutnya bu Aisyah apalagi langsung menyebut namanya Aisyah (jw=njambal)

8. Apabila berjalan, maka di belakang mereka jangan berjalan di depan mereka.

9. Apa-apa yang desenangi kita maka juga mereka senang, janganlah barang yang tidak kita sukai kita berikan kepada orang lain, terlebih kepada ibu bapak.


10. Mendoakan mereka, memintakan ampunan Allah Ta’ala untuk mereka
Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil".(Al Is’ra 24)

Hukama’ (Ulama ahli hukum) berkata :
“barang siapa yang mendurhakai orang tua, ia tidak akan menemukan kebahagiaan atas anaknya”
“barang siapa dalam masalah keluarga tidak mau bermusyawarah ia tidak akan menemukan tujuan hidup atau arti hidup (ma’nal hayah)”

“dalam rumah tangga dibutuhkan akhlaq karimah agar rumah tangga menjadi sakinah, mawaddah dan rahmah”
“apabila anak sudah besar maka janganlah terlalu sering menasehatinya, karena akan hilang wibawa orang tua, maka dakwah dengan khal (perbuatan) lebih efektif ketimbang dakwah dengan aqwal (ucapan).”

“dalam kehidupan tidak cukup hanya dengan berbuat baik kepada Allah dan RasulNya, berbuat baik kepada sesama makhluk juga penting”, seperti sesama manusia, dengan hewan, jangan sampai menyakiti mereka karena mereka juga punya rasa sakit, dan tumbuhan yang baru tumbuh.

“bacalah semua Asma’ul Husna dan temukan yang paling “mengena” di hati anda, gunakanlah sebagai wirid sehari-hari, karena Asma’ul Husnanya Allah cocok untuk seluruh makhluk.”

15· ·